Tak Peduli Harga Garam Anjlok Petani Tetap Melakukan Panen Garam

Lengkong, Sabtu tanggal 27 juni 2020 warga desa Lengkong Batangan Kab Pati tetap semangat mempruduksi garam rakyat, tanpa mengenal lelah dan terik matahari yang menyengat badan.

Semangat bekerja tetap ada padanya, dimasa New Normal mereka seakan-akan tak peduli dikarenakan itu satu-satunya pekerjaan yang ditekuni secara turun-menurun sampai sekarang .

Saat ini memang harga garam dari petani belum sebagus seperti tahun -tahun yang lalu ,yang  harga  garam rakyat diatas Rp. 1000/kg; Harga garam saat ini dari petani Rp 250 kg, itu saja tidak banyak tengkulak yang membeli garam.

Sebenarnya harga ini tidak sebanding dengan para petani memeras keringat banting tulang tidak menghiraukan teriknya panas matahari menyengat. Ini disebabkan kerana para petani umumnya orang-orang berpenghasialan pas-pasan sehingga biarpun garam harga murah pun tetap memproduksi karena untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari supayaa kendilnya(tempat memask) tidak ngguling (bhs jawa) supaya tempat memasaknya tidak kosong.

Digudang  yang dimilki para petani  itu masih banyak bahan baku garam grosok yg beulm terjual karena keburu harga turun, ini belum sempat terjual sudah kemarau lagi.Para petani mengeluh menanti kebijakan Pemerintah  agar ada penyelesaian tentang haga garam rakyat, supaya stabil dan petani dapat menjual hasil panen nya sesuai harapan.

Hal ini dikeLuh kan para petani di bagian Pantura Kab Pati umumnya khususnya didesa Lengkong,Kecamatan Batangan Kab Pati salah satu centra produksi garam Rakyat no 2 se-Indonesia setelah Madura.Dan Harapan para petani supaya Pemerintah tidak import garam dulu dari luar ,agar harga garam bisa stabil dan petani dapat menjual garamnya dipasaran.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan